“Memories warm you up from the inside, but they also tear you apart.” Haruki Murakami – Kafka on the Shore.
Terjemahannya “Kenangan menghangatkanmu dari dalam, tapi juga menghancurkanmu.”
***
Bayangkan, ini adalah malam yang dingin. Di luar tidak ada angin, hujan juga tidak turun, bahkan tidak ada suara serangga malam. Kalong dan burung hantu juga tidak lewat. Kamu mendengarkan lagu kesukaanmu, memejamkan mata, dan menghayati setiap liriknya.
Bagaimana? Apakah lagu itu berhasil membawamu terbang jauh ke suatu masa yang telah hilang? Ya, ya, pasti rasanya campur aduk kan? Kamu pasti senang dan tenang. Di sisi lain, kamu juga merasa sedih dan rindu. Quote ini (yang bertahun-tahun lalu saya temukan di internet) telah membuat saya sangat jatuh hati kepada Haruki Murakami, bahkan sebelum bertemu karyanya.
Saya menyesal tidak membaca karya-karyanya sejak lama. Karena membaca Kafka on the Shore benar-benar membuat saya jatuh hati dan gagal move on (ke buku lain). Murakami sangat bagus dalam menyisipkan quote di dalam percakapan tokohnya, dan saya menikmati hal itu.
Awal paragraf bab 1 tidak terlalu membuat saya tertarik. Kafka on the Shore, pada awalnya, memaksa saya untuk membiasakan diri bertahan membaca, hingga akhirnya bertemu dengan part-part yang luar biasa.
Cara beliau bercerita sangat cantik, dengan alur maju mundur yang membuat pembaca penasaran. Dengan aliran surealisme yang cerdas, tidak heran jika beliau adalah salah satu penulis Jepang terbaik. Ya, ada beberapa hal yang membuat tulisannya begitu spesial dan berbeda dari penulis lain. Membaca karya-karyanya akan menimbulkan perasaan yang tidak bisa saya jelaskan.
Seperti ketika sedang melihat bintang di malam yang sunyi atau memandang ke hamparan laut sore yang tenang; ada perasaan sedih, kesepian, tenang, sekaligus bahagia yang bercampur menjadi satu. Layaknya cupid yang membidik dengan busur panahnya, karya Murakami melesat tepat ke hati, meninggalkan kesan yang mendalam. Dan tentunya membuat saya jatuh cinta.
Novel ini menerbangkan pikiran saya kembali ke beberapa tahun silam. Tepatnya ketika saya selalu berhenti untuk mengamati bintang-bintang di malam hari. Perasaan saya ketika membaca Murakami sama seperti ketika saya mengamati langit malam, benar-benar perasaan itu yang saya rasakan. Saya menemukan ketenangan, kegelisahan, dan rasa senang sekaligus.
Saya tidak tahu kenapa perasaan ini sangat kuat. Tapi Kafka on the Shore benar-benar berhasil menyentuh hati saya yang terdalam. Rasanya, saya masih menangis setiap kali mengingat kalau saya sudah menyelesaikannya. Saya pasti akan membaca semua karya beliau.
Baik, saya akan membahas sedikit tentang novel ini berdasarkan interpretasi saya.
Baca juga: Absurdisme dalam Novel O Karya Eka Kurniawan
Keterasingan dan Pencarian Makna Hidup dalam Kafka on the Shore

Keterasingan dan pencarian makna hidup adalah tema yang sangat menonjol dalam Kafka on the Shore karya Haruki Murakami ini. Melalui tokoh-tokoh yang saling terkait namun terasing satu sama lain, Murakami mengajak pembaca untuk merenungkan apa artinya hidup di dunia yang penuh absurditas dan misteri. Novel ini penuh filosofi, dan Murakami adalah sastrawan jenius yang terlihat berpengetahuan luas.
Tokoh Kafka Tamura, seorang remaja yang melarikan diri dari rumah, menggambarkan keterasingan dalam bentuk paling mentah. Ia menjauh dari sang ayah yang dibencinya, mencoba melarikan diri dari takdir kelam yang terasa seperti kutukan.
Di sisi lain, ada Nakata, seorang pria tua yang kehilangan sebagian besar ingatannya dan kemampuannya untuk membaca dan menulis. Sebenarnya Nakata tidak digambarkan mengalami amnesia, melainkan ia merasa bahwa dirinya kosong dan tidak bisa apa-apa. Padahal dulunya ia adalah seorang anak yang jenius.
Kendati demikian, ia memiliki kemampuan unik untuk berkomunikasi dengan kucing. Kafka dan Nakata menjalani perjalanan masing-masing—Kafka mencari makna hidupnya yang tampak terpecah-pecah, sementara Nakata secara tak sadar menjadi alat untuk mengungkap misteri-misteri besar yang melibatkan mereka berdua.
Di sepanjang cerita, keterasingan ini muncul bukan hanya dalam hubungan antar tokoh, tetapi juga dalam hubungan mereka dengan dunia di sekitar mereka. Kafka kerap terjebak dalam pikirannya sendiri, bergulat dengan kenangan, mimpi, dan visi yang menyeramkan.
Sedangkan Nakata berada di “luar” dunia manusia biasa—ia tidak mengerti logika dunia modern, tetapi ia terhubung dengan alam dan makhluk hidup dengan cara yang mendalam dan spiritual. Murakami seakan ingin mengatakan bahwa keterasingan bukan sekadar pengalaman sosial, melainkan juga pengalaman eksistensial—sebuah rasa terpisah dari dunia dan dari diri sendiri.
Pencarian makna hidup dalam novel ini hadir melalui berbagai metafora dan simbol, seperti hujan ikan, hujan lintah, kucing yang berbicara, hingga perpustakaan yang seakan menjadi tempat perlindungan sekaligus labirin penuh rahasia. Kehidupan dalam Kafka on the Shore tidak pernah terasa stabil atau pasti.
Segala sesuatu tampak seperti teka-teki yang tak pernah benar-benar selesai dipecahkan. Namun, justru dalam ketidakpastian inilah para tokoh menemukan momen-momen pencerahan kecil yang membentuk jalan hidup mereka.
Baca juga: Siluet Hitam di Depan Jendela
Salah satu bagian yang sangat saya sukai adalah ketika Kafka berada di perpustakaan, berinteraksi dengan Oshima dan Nona Saeki. Perpustakaan itu sendiri bisa dilihat sebagai metafora untuk pikiran manusia—tempat yang penuh dengan kenangan, harapan, dan pertanyaan-pertanyaan yang tidak terjawab.
Nona Saeki, dengan masa lalunya yang tragis dan lagu Kafka on the Shore yang ia ciptakan, seolah menjadi cerminan pencarian makna yang tak pernah selesai. Ia terjebak di antara masa lalu dan masa kini, seperti hidup di sebuah dimensi lain yang penuh melankolia.
Bagi saya, Kafka on the Shore mengajarkan bahwa hidup adalah perjalanan penuh ketidakpastian, dan kita harus berdamai dengan itu. Keterasingan adalah bagian tak terpisahkan dari keberadaan kita, tetapi justru di dalamnya kita sering menemukan keindahan yang tidak terduga.
Murakami seolah ingin mengingatkan bahwa makna hidup bukan sesuatu yang ditemukan dengan mudah; ia mencair, bergerak, dan berubah seiring waktu. Dalam novel ini, saya menemukan bahwa makna bukanlah tujuan, tetapi proses.
Oh ya, saya juga sempat menonton di YouTube bahwa Murakami terinspirasi dari Genji Monogatari karya Murasaki Shikibu, khususnya mengenai konsep Ikiryo—roh atau hantu yang berasal dari seseorang yang masih hidup. Inspirasi ini tampak jelas ketika Murakami menggambarkan hantu Nona Saeki yang berusia 15 tahun di perpustakaan, yang akhirnya membuat Kafka jatuh hati.
Membaca Kafka on the Shore adalah pengalaman yang sangat pribadi dan mendalam bagi saya. Novel ini tidak hanya menghibur, tetapi juga mengundang saya untuk merenungkan hal-hal yang lebih besar—tentang takdir, kesepian, cinta, dan apa artinya menjadi manusia.
Seperti bintang yang saya pandangi di malam hari, ceritanya memberikan cahaya kecil yang menenangkan sekaligus membingungkan. Cahaya itu mengingatkan saya bahwa meski kita sering merasa kecil dan terasing, kita tetap menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar, sesuatu yang mungkin tidak pernah sepenuhnya kita pahami.
Ada salah satu bagian yang berkesan dan menyentuh dari novel ini, yaitu ketika Kafka berada di hutan. Di situ ia meyakinkan dirinya supaya tidak merasa takut terhadap apapun, karena sebenarnya segala ketakutan dan berbagai hal yang ada di luar dirinya adalah bagian dari dalam dirinya sendiri.
Novel ini bukan novel yang ditutup dengan tokoh-tokoh protagonis yang memenangkan pertarungan dan hidup bahagia. Bukan pula novel motivasi yang diawali penderitaan tokoh utama lalu berakhir dengan kesuksesan.
Tidak, ini bukan cerita ala Disney atau buku inspirasi. Kafka on the Shore adalah refleksi kehidupan sejati—penuh dengan teka-teki yang tak semuanya menemukan jawaban di akhir. Namun, justru di situlah letak daya tariknya. Novel cerdas ini menawarkan pengalaman membaca yang mendalam, penuh lapisan makna, dan tanpa ragu, sangat layak untuk kamu nikmati.