Roman Bukan Pasarmalam Roman Bukan Pasarmalam

Hidup Ini Bukan Pasar Malam: Yang Datang dan Pergi Beramai-ramai

Awal paragraf roman karya Pramoedya Ananta Toer ini langsung membuat dada saya terasa sesak. Roman diawali dengan datangnya surat yang diterima oleh tokoh “Aku” dari sang bapak yang berada di kampung halamannya, Blora.

Setengah tahun setelah surat itu datang, paman dari kampung mengirimkan surat yang mengabarkan bahwa bapak sakit TBC. Dari sinilah tokoh “Aku” kemudian melakukan perjalanan menggunakan kereta api dari Jakarta ke Blora, yang mana ia menggunakan uang hasil pinjam dari temannya.

Dengan tebal 104 halaman saja, roman ini bisa langsung kamu selesaikan sekali baca(kalau kamu tidak sibuk). Saya peringatkan kamu untuk menyiapkan sapu tangan atau tisu, karena setiap lembarnya akan membuat air mata menetes sendiri.

Baca juga: Keterasingan dan Pencarian Makna Hidup dalam Kafka on the Shore Karya Haruki Murakami

Hidup yang Sulit untuk Orang-orang Baik

Hidup ini sangat sulit untuk orang-orang yang hanya ingin menjadi baik. Setidaknya itu yang saya pikirkan ketika membaca roman Bukan Pasarmalam ini. Tokoh bapak yang terbaring lemah di rumah sakit, awalnya adalah seorang guru dan pejuang yang selalu berusaha keras untuk kemerdekaan Indonesia. Seorang guru yang sangat tulus untuk mencerdaskan anak-anak bangsa.

Kisah ini menggambarkan betapa kerasnya dunia bagi mereka yang tidak menginginkan kekuasaan atau keuntungan pribadi, mereka yang sekadar menginginkan hidup yang penuh dengan kebaikan dan kebermanfaatan untuk sesama. Namun kenyataannya, hidup tidak memberinya hadiah.

Ada beberapa percapakan yang membuat hati semakin iba, terutama ketika tokoh “Aku” mengunjungi bapak di rumah sakit. Kenyataan yang sama dengan kehidupan kita di dunia nyata, bahwa orang-orang baik belum tentu memiliki kehidupan dunia yang makmur.

Penggambaran tokoh bapak yang menderita sakit terasa begitu jelas. Dengan percakapan-percakapan yang menyentuh hati. Narasi di bawah ini membuat saya sesenggukan:

Mata ayah tertutup sekarang, dan lingkaran yang biru membatasi kelopaknya. Kemudian aku lihat airmata meleleh pada mata yang cekung itu. Dan airmata itu diam saja di sudut-sudut matanya – tak menggelinang. Dan aku lihat juga mulut ayah berkecamik. Aku tahu ayah menangis, dan tangis yang tiada bertenaga. Kulemparkan pandangku ke jendela, ke arah kamar mati. Nafas panjang kuisap bersambung-sambung.

Di sini saya merasakan banyak beban yang ditanggung oleh tokoh “Aku”. Bapaknya sakit keras, salah satu adiknya juga sakit, dan dia harus memperbaiki rumah yang hampir roboh.

Selain menonjolkan penderitaan yang banyak dialami rakyat kecil dan orang-orang yang jujur, roman ini juga mengingatkan tentang kematian. Tentang manusia yang pasti akan mati jika gilirannya sudah tiba. Kita datang sendiri-sendiri ke dunia, lalu kita juga kembali(mati) sendiri-sendiri. Seperti kutipan dari roman ini:

Dan di dunia ini, manusia bukan berduyun-duyun lahir di dunia dan berduyun-duyun pula kembali pulang seperti dunia dalam pasar malam. Seorang-seorang mereka datang dan pergi. Dan yang belum pergi dengan cemas menunggu saat nyawanya terbang entah ke mana.

Baca juga: Absurdisme dalam Novel O Karya Eka Kurniawan

Dalam kehidupan nyata, banyak sekali orang-orang baik yang harus menghadapi penderitaan yang tidak sebanding dengan kebaikan mereka. Mereka yang mengabdikan hidupnya untuk orang lain sering kali justru mengalami kesulitan yang lebih besar dibanding mereka yang mengejar kekayaan atau kekuasaan. Seperti tokoh bapak dalam roman ini, yang sepanjang hidupnya berjuang untuk pendidikan dan kemerdekaan, namun harus menghadapi akhir yang penuh penderitaan.

Namun, meskipun dunia terasa begitu keras bagi orang-orang baik, ada keindahan dalam perjuangan mereka. Ada makna dalam setiap pengorbanan yang mereka lakukan. Hidup mereka mungkin tidak dihiasi dengan kemewahan, tetapi mereka memiliki ketulusan yang tidak dapat dibeli dengan uang.

Seperti tokoh bapak dalam Bukan Pasarmalam, meskipun hidupnya berakhir dalam penderitaan, ia telah menanamkan nilai-nilai yang tak ternilai bagi keluarganya dan bagi dunia di sekitarnya.

Mungkin, kebaikan bukanlah tentang mendapatkan balasan yang setimpal di dunia ini. Mungkin, kebaikan adalah tentang meninggalkan jejak yang berarti, tentang memastikan bahwa dunia ini menjadi tempat yang sedikit lebih baik, meskipun kita sendiri harus menanggung beban yang berat.

Pada akhirnya, Bukan Pasarmalam mengajarkan kita bahwa dunia memang tidak selalu adil bagi mereka yang baik. Tetapi di balik semua kesulitan, ada sesuatu yang lebih besar daripada sekadar keuntungan materi atau kehidupan yang nyaman: ada keberanian untuk tetap berbuat baik, meskipun dunia tidak selalu berpihak kepada mereka.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *