monkeys-eating-fruit_181624-26885 monkeys-eating-fruit_181624-26885

Absurdisme dalam Novel O Karya Eka Kurniawan

Setelah dua tahun lebih fokus untuk mengurus anak tanpa membaca buku, akhirnya saya bisa membaca buku lagi. Saya harap tahun ini akan menjadi permulaan yang bagus untuk membangun kembali apapun yang telah saya lewatkan.

Baiklah, tentang buku, karya Eka Kurniawan menjadi karya pertama yang saya baca. Selain membaca ulang Cantik itu Luka, saya juga baca karya beliau yang berjudul O. Saya juga beli buku-buku beliau yang lain, yang akan saya ulas di lain kesempatan.

Saya memang belum membaca ribuan buku, tapi membaca O membuat saya teringat Albert Camus dan Franz Kafka; tentang manusia, tentang penderitaan, dan tentang hewan yang bisa bicara laiknya manusia.

Absurdisme menjadi hal pertama yang terlintas di pikiran saya ketika membaca novel ini. Meski tidak sepenuhnya tentang absurdisme yang diutarakan oleh Albert Camus, tapi beberapa masalah yang dialami tokoh di novel ini seakan mengalami hal yang cukup absurd.

Baca juga: Rose DeWitt Bukater dalam “Titanic”: Perempuan Manipulatif yang Egois

Betalumur: Sosok yang Tenggelam dalam Absurditas

Pict by Gramedia.com

Kali ini saya ingin membahas tentang Betalumur, si pawang O yang hidupnya super blangsak. Tidak jelas siapa orang tuanya, dia hanya mengumpulkan uang untuk bisa makan di hari itu. Ada perasaan campur aduk ketika membaca part Betalumur dan O. Saya kasihan pada O yang disiksa terus menerus, tapi juga nelangsa terhadap nasib yang dialami Betalumur.

Betalumur adalah salah satu tokoh yang paling tragis dalam novel ini. Hidupnya penuh dengan penderitaan, tanpa arah, dan tanpa makna yang jelas. Dia tidak punya masa lalu yang berarti, tidak punya masa depan yang menjanjikan, dan bahkan di saat ini pun dia hanya bertahan untuk makan dan bertahan hidup.

Betalumur bukanlah pahlawan, bukan juga penjahat yang benar-benar kejam—dia hanya manusia yang berusaha bertahan dalam dunia yang tidak memberinya tempat.

Dalam absurdisme Camus, manusia menghadapi dunia yang tidak peduli terhadap eksistensinya. Begitu pula dengan Betalumur, yang seolah-olah hanya menjalani hidup tanpa tahu untuk apa. Dia dulu seorang begal, kemudian menjadi pawang monyet, lalu jatuh ke dalam penderitaan yang lebih besar.

Dunia memperlakukannya dengan kejam, tetapi dia juga tidak punya kendali atas hidupnya. Seperti Sisifus yang terus mendorong batu ke puncak hanya untuk melihatnya jatuh lagi, Betalumur menjalani siklus yang sama: bertahan hidup, menderita, lalu mati tanpa makna.

Kamu mungkin pernah menjumpai seseorang seperti Betalumur? Ya, mungkin memang benar adanya. Terutama mereka yang hidup di jalanan. Atau mereka yang hidup sendirian, miskin, dan tidak terlihat.

O dan Keinginan yang  Mustahil

Jika Betalumur adalah gambaran manusia yang terjebak dalam absurditas hidup tanpa tujuan, O justru menjadi simbol pemberontakan terhadap absurditas itu. Dia adalah monyet yang ingin menjadi manusia, sebuah keinginan yang mustahil dan absurd.

Keinginan O mengingatkan pada kisah Gregor Samsa dalam Metamorfosis karya Franz Kafka, seorang manusia yang terbangun sebagai kecoak dan tidak bisa memahami nasibnya.

Namun, berbeda dengan Gregor yang bertransformasi tanpa kehendak, O justru memiliki keinginan kuat untuk menjadi manusia. Sayangnya, seperti yang ditekankan dalam filsafat absurdisme, dunia tidak memiliki alasan untuk memenuhi harapan makhluk yang hidup di dalamnya.

O bisa berusaha sekuat tenaga, tetapi dia tetaplah seekor monyet. Keinginannya untuk menjadi manusia justru menjadi sumber penderitaannya sendiri, karena realitas tidak bisa diubah hanya dengan kehendak.

Salah satu aspek yang membuat O begitu absurd adalah bagaimana dunia dalam novel ini dipenuhi oleh tokoh-tokoh yang mencoba memberi makna pada sesuatu yang tak bermakna.

Betalumur percaya bahwa hidupnya bisa lebih baik jika ia punya uang, O percaya bahwa ia bisa menjadi manusia, dan berbagai tokoh lain memiliki obsesi yang pada akhirnya tidak membawa mereka ke mana-mana.

Baca juga: Makna Lagu Coldplay ”Paradise”: Tentang Kebebasan dan Humanisme

Dunia dalam O bukanlah dunia yang adil, juga bukan dunia yang penuh harapan. Itu adalah dunia yang acak, penuh kekerasan, dan tidak memiliki sistem yang jelas. Nasib seseorang bisa berubah hanya karena keberuntungan atau kebetulan, tanpa ada hukum moral yang memastikan bahwa yang baik akan menang dan yang jahat akan kalah.

Dalam absurdisme, inilah inti dari eksistensi manusia: kita hidup dalam dunia yang tidak peduli dengan harapan dan perjuangan kita, tetapi kita tetap berusaha mencari makna, meskipun kita tahu pada akhirnya semua itu sia-sia. Dan itulah salah satu alasan bahwa agama menjadi pedoman dan kekuatan bagi sebagian besar orang.

Membaca O seperti membaca kehidupan yang sesungguhnya. Kamu pasti hanyut di dalam setiap halaman bukunya. Alurnya yang maju mundur membuat kita harus tetap fokus ketika membaca. Saya jamin kamu tidak akan mengantuk membaca buku ini.

Yah, seperti karya Eka Kurniawan yang lain, paragraf pembukanya selalu menarik. Lalu endingnya selalu saja membuat saya tidak puas; sebab saya tidak ingin novel itu selesai, saya ingin ada kelanjutan kisah bagi karakter-karakternya. Tapi Eka Kurniawan selalu menutup novelnya seperti itu, dan saya menyukai setiap karyanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *